Kasus HIV di Bengkalis Tembus 35 Kasus Sepanjang 2026, KPA Ungkap Kelompok Paling Banyak Terdeteksi
BENGKALIS — Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Bengkalis memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS setelah menemukan penambahan 35 kasus HIV positif sepanjang 2026.
Langkah itu dibahas dalam rapat koordinasi lintas sektor yang digelar di Lantai II Kantor Bupati Bengkalis, Rabu (26/8/2026). Rapat melibatkan pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Rapat dipimpin Wakil Bupati Bengkalis Bagus Santoso, yang juga Ketua KPA Kabupaten Bengkalis. Dalam forum tersebut, KPA memaparkan perkembangan kasus HIV yang terdeteksi sepanjang tahun ini.
Sekretaris KPA Bengkalis, Rita Puspita, mengatakan peningkatan temuan kasus tidak serta-merta menunjukkan seluruhnya merupakan penularan baru. Menurut dia, semakin banyak warga yang secara mandiri memeriksakan kesehatan turut mendorong bertambahnya kasus yang terdeteksi.
“Untuk saat ini di Kabupaten Bengkalis, kasus HIV yang terpantau terus meningkat. Hal ini juga karena semakin banyak masyarakat yang sadar melakukan pemeriksaan secara mandiri di fasilitas kesehatan, termasuk di RSUD Mandau maupun RSUD Bengkalis,” kata Rita.
Berdasarkan data KPA, terdapat 35 kasus HIV positif yang terdeteksi sepanjang 2026. Sebagian besar kasus tersebut ditemukan pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL).
Perubahan pola tersebut menjadi perhatian KPA. Rita mengatakan strategi pencegahan perlu disesuaikan dengan karakteristik kelompok yang menjadi sasaran program.
Pada awal pembentukan KPA, kata dia, pencegahan lebih banyak menyasar kawasan lokalisasi dan kelompok pekerja seks. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan membuat kesadaran kelompok tersebut terhadap pencegahan HIV meningkat.
“Dahulu penyebaran HIV lebih banyak ditemukan di kalangan pekerja seks. Edukasi yang terus dilakukan membuat kesadaran mereka meningkat untuk melakukan langkah-langkah pencegahan,” ujarnya.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pola penyebaran HIV bergeser. KPA kini menghadapi tantangan untuk menjangkau kelompok berisiko yang cenderung tertutup terhadap program sosialisasi pemerintah.
Karena itu, KPA Bengkalis mendorong kembali keterlibatan lembaga swadaya masyarakat dan tenaga penjangkau. Mereka dinilai lebih mudah membangun komunikasi dengan kelompok sasaran untuk memberikan edukasi dan pendampingan.
“Merekalah yang nantinya dapat membantu menjangkau kelompok-kelompok tersebut untuk memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai pencegahan HIV dan AIDS,” kata Rita.
Bagus Santoso mengatakan perubahan pola kehidupan dan tingginya mobilitas masyarakat menghadirkan tantangan baru dalam penanggulangan HIV/AIDS. Menurut dia, HIV bukan semata persoalan individu karena dampaknya dapat meluas ke keluarga.
“Penyakit ini tidak hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga bisa berdampak kepada keluarga. Karena itu, edukasi dan pencegahan harus terus kita lakukan bersama,” ujar Bagus.
Ia mengatakan akses pemeriksaan dan layanan penanganan HIV di Bengkalis kini semakin terbuka. Layanan tersebut tersedia di RSUD Bengkalis, RSUD Mandau, dan sejumlah puskesmas.
Menurut Bagus, bertambahnya kasus yang terdeteksi perlu dilihat bersama dengan meningkatnya akses layanan kesehatan dan kesadaran masyarakat untuk menjalani pemeriksaan. Karena itu, angka temuan kasus tidak selalu dapat dibaca sebagai kenaikan penularan baru dalam jumlah yang sama.
Bagus meminta organisasi perangkat daerah, DPRD, lembaga pendidikan, media massa, organisasi masyarakat, dan elemen masyarakat lainnya memperkuat sosialisasi serta edukasi mengenai HIV/AIDS.
“KPA tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Bengkalis dapat berjalan lebih maksimal,” katanya.(AC)










Tulis Komentar