Infrastruktur Kampar 2026: 51,7 Persen Jalan Masih Rusak, Pemkab Prioritaskan Akses Perkebunan

KAMPAR — Jalan berdebu itu membelah hamparan kebun sawit di tepian Kabupaten Kampar. Pagi belum sepenuhnya terang ketika truk-truk pengangkut tandan buah segar mulai melintas, meninggalkan jejak berlubang yang kian dalam. Di tengah denyut aktivitas ekonomi yang menggantung pada akses darat, kondisi infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah yang belum rampung.

Data per April 2026 menunjukkan, panjang jalan di Kampar mencapai 2.734,41 kilometer. Dari jumlah itu, 1.320,69 kilometer atau 48,30 persen berada dalam kondisi mantap. Sisanya, 1.413,72 kilometer atau 51,70 persen, masih belum mantap. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kesenjangan akses yang dirasakan warga dari desa ke pusat ekonomi.

medium_news_1775741201.jpg

Di Desa Koto Damai, misalnya, warga mengaku harus menempuh perjalanan lebih lama saat musim hujan. “Kalau hujan, jalan jadi licin dan sulit dilewati. Biaya angkut hasil kebun juga naik,” ujar Rahmat, seorang petani sawit, Senin pagi. Ia berharap perbaikan jalan segera dilakukan agar penghasilan petani tidak terus tergerus ongkos distribusi.

Pemerintah Kabupaten Kampar memahami persoalan tersebut. Fokus pembangunan kini diarahkan pada jalan produksi dan perkebunan, terutama yang menunjang komoditas sawit. Selain itu, pembangunan infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan permukiman juga menjadi prioritas untuk mendorong pemerataan pembangunan.

Empat ruas jalan telah diajukan untuk mendapat perhatian lebih. Ruas itu meliputi Jalan Suka Menanti–Koto Damai, Jalan Lubuk Agung–Balung, Jalan Pangkalan Baru–Buluh Nipis, serta Jalan Pasar Kampar–Hidup Baru. Keempatnya dinilai strategis karena menghubungkan pusat kegiatan ekonomi dengan kawasan permukiman serta lahan pertanian dan perkebunan.

Di Pasar Kampar, denyut perdagangan bergantung pada kelancaran distribusi barang. Pedagang sembako mengaku sering menghadapi keterlambatan pasokan akibat kondisi jalan. “Kalau jalan rusak, barang datang terlambat, harga bisa ikut naik,” kata Siti, pedagang di pasar tersebut.

Bupati Ahmad Yuzar menegaskan bahwa peningkatan kualitas jalan menjadi kebutuhan mendesak. “Pembangunan jalan ini penting untuk memperlancar arus transportasi dan menekan biaya distribusi hasil pertanian dan perkebunan,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Menurut dia, infrastruktur yang baik akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Dengan akses yang lebih lancar, petani dapat menjual hasil panen dengan biaya lebih rendah, sementara pelaku usaha memperoleh kepastian distribusi. Pemerintah daerah, kata dia, berkomitmen mengawal pembangunan tersebut secara bertahap.

Di sisi lain, upaya ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program pembangunan infrastruktur nasional yang berkelanjutan. Pemerintah daerah berharap sinergi dengan pemerintah pusat dapat mempercepat realisasi proyek-proyek prioritas di Kampar.

Bagi warga, jalan bukan sekadar penghubung antarwilayah. Ia adalah urat nadi kehidupan ekonomi. Selama jalan masih berlubang dan belum mantap, selama itu pula perjalanan menuju kesejahteraan terasa lebih panjang.(Adv)

 

TERKAIT