Mengukir Harapan dari Potongan Kayu,PHR Buka Jalan Kemandirian Anak-Anak Istimewa SLB Bumi Manggalo

Anak-Anak SBL melakukan Pengamplasan Kayu
Penulis : Diana Sari 
 
Suara "srek... srek... srek..." terdengar berulang kali, dari arah sudut  ruangan kelas keterampilan Sekolah Luar Biasa (SLB) Bumi Manggalo. Saat memasuki ruangan ternyata terlihat beberapa orang anak sedang asik gesekan kertas amplas pada beberapa potong permukaan kayu menciptakan irama sederhana di ruangan itu. 

Debu-debu halus perlahan menempel di permukaan meja. Sesekali, tangan mereka berhenti ketika guru datang menghampiri, memberikan arahan, lalu memperagakan kembali cara menghaluskan kayu yang belum rata.

Ada anak yang mampu melanjutkan pekerjaannya sendiri. Ada pula yang harus dibimbing berulang kali untuk menyelesaikan satu tahapan. Tidak ada yang dikejar untuk bekerja cepat. Di ruangan itu, setiap gerakan kecil memiliki arti. Menggosok kayu, merakit bagian demi bagian, hingga menghasilkan sebuah kerajinan menjadi proses belajar yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Dari beberapa potongan kayu-kayuan itulah, anak-anak luar biasa ini, belajar mengenali kemampuan diri. Dengan pendampingan guru dan dukungan program pemberdayaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), keterampilan sederhana tersebut perlahan dikembangkan menjadi karya yang memiliki nilai guna, sekaligus membuka kesempatan bagi mereka untuk tumbuh lebih percaya diri dan mandiri.

Bagi para guru, mengajarkan satu keterampilan bukan pekerjaan sederhana. Instruksi harus disampaikan secara perlahan, diperagakan, kemudian dipraktikkan kembali. Kesabaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar.

Kondisi tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi SLB Bumi Manggalo dalam mengembangkan kemampuan peserta didiknya. Keterbatasan ekonomi sebagian keluarga juga menjadi persoalan tersendiri. Tidak semua orang tua memiliki kemudahan mengantar anak ke sekolah, bahkan ketika ada kegiatan pelatihan tambahan.

Dalam keadaan tertentu, pihak sekolah harus membantu menjemput siswa ke rumah agar mereka tetap bisa mengikuti kegiatan pembelajaran.

Di tengah berbagai keterbatasan itu, potensi anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk berkembang. Keterampilan praktis menjadi salah satu jalan agar mereka memiliki kesempatan menghasilkan karya dan mengenali kemampuan diri.

Kebutuhan inilah yang menjadi salah satu perhatian PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melalui program pemberdayaan masyarakat di sejumlah sekolah luar biasa di Riau.

IMG-20261030-WA0010.jpg

PHR Mengembangkan Potensi, Bukan Sekadar Memberi Bantuan

Bagi PHR, pemberdayaan kelompok masyarakat berkebutuhan khusus tidak cukup dilakukan dengan memberikan bantuan sesaat. Pendampingan perlu diarahkan pada penguatan kemampuan penerima manfaat agar kegiatan yang dibangun dapat terus berjalan setelah dukungan perusahaan berkurang.

Pendekatan tersebut diterapkan dalam pembinaan keterampilan di SLB Bumi Manggalo. PHR mengembangkan kegiatan kriya kayu dengan bertolak dari kemampuan dan kebutuhan yang telah dimiliki sekolah.

Manager Community Involvement & Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan program tersebut tidak dirancang untuk menciptakan ketergantungan. Sekolah didorong agar mampu mengembangkan kegiatan keterampilan secara bertahap dan mandiri.

“Pengembangan produk mereka dimulai dari potensi yang sudah dimiliki,” ujar Iwan, Rabu (9/9/2026).

Program ini melibatkan 10 siswa dan lima guru pendamping. Tidak hanya siswa yang memperoleh pembelajaran, para guru juga mendapatkan pembekalan agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diteruskan kepada peserta didik lainnya.

Dengan pola tersebut, pendampingan PHR tidak hanya berorientasi pada hasil pelatihan dalam jangka pendek. Penguatan kapasitas guru menjadi bagian penting agar kegiatan tetap memiliki keberlanjutan di lingkungan sekolah.

Dalam praktiknya, siswa mempelajari proses pembuatan produk kayu melalui beberapa tahapan. Mulai dari pengamplasan, perakitan, penyelesaian akhir atau finishing, hingga pengemasan.

Setiap pekerjaan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Aspek keselamatan juga menjadi perhatian selama proses produksi, sehingga kegiatan keterampilan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing peserta.

Bagi siswa yang membutuhkan waktu lebih panjang, pengulangan menjadi bagian dari pembelajaran. Guru mendampingi mereka agar dapat memahami pekerjaan secara bertahap.

Wartoni, salah seorang pendamping di SLB Bumi Manggalo, mengatakan proses mengajarkan keterampilan membutuhkan ketekunan karena tidak semua siswa dapat langsung memahami instruksi.

“Kadang harus diulang lagi, dijelaskan lagi, kemudian dipraktikkan kembali. Itu memang membutuhkan kesabaran,” katanya.

Menurut Wartoni, dukungan terhadap anak-anak tidak boleh berhenti pada proses pembelajaran di kelas. Potensi yang mereka miliki perlu dikembangkan melalui kesempatan berlatih dan menghasilkan karya.

“Anak-anak ini sebenarnya punya kemampuan. Kalau kemampuan mereka tidak kita maksimalkan, tentu sangat disayangkan,” tuturnya.

4afda8e02523b4e287d2db95a03076b2845216580ebfaea5434b634d9f25c2a4.0.jpeg

Dari Ruang Keterampilan Menuju Pameran UMKM

Salah satu upaya PHR dalam mengembangkan hasil pembelajaran adalah mendorong produk siswa agar dikenal masyarakat. Keterampilan yang dipelajari tidak hanya diarahkan menjadi aktivitas rutin di sekolah, tetapi juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan secara produktif.

Hasilnya mulai terlihat ketika siswa SLB Bumi Manggalo mengikuti pameran. Hingga kini, mereka telah dua kali memperkenalkan produk kepada masyarakat. Salah satunya berlangsung di Hotel Amadio dengan menampilkan kerajinan berupa tempat tisu dan tempat telepon genggam.

Produk-produk tersebut mendapat perhatian pengunjung. Bahkan, beberapa di antaranya dibeli konsumen.

Bagi sekolah, pengalaman tersebut menjadi perkembangan yang berarti. Hasil pembelajaran yang selama ini dikerjakan di ruang keterampilan mulai memperoleh apresiasi dari masyarakat.

Pameran juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengenalkan hasil karya mereka di luar lingkungan sekolah. Dengan demikian, keterampilan tidak berhenti pada kemampuan membuat produk, tetapi mulai bersentuhan dengan pengenalan pasar dan nilai ekonomi.

PHR mendorong pengembangan produk agar memiliki nilai tambah dan dapat diperkenalkan melalui pameran UMKM maupun kegiatan lainnya. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengembangan keterampilan yang menghubungkan proses pendidikan dengan peluang produktivitas.

a49581ed8d88fa0e3720c6ead896c4baefdda8123bb46601e6b672749af38a9d.0.jpeg

Tiga SLB, Tiga Potensi Pemberdayaan

Komitmen PHR dalam mendukung pengembangan keterampilan anak berkebutuhan khusus tidak hanya dilakukan di SLB Bumi Manggalo. Program serupa juga dijalankan di SLB Yayasan Hati Terpilih dan SLB Aisyiyah.

Pendekatan yang diterapkan berbeda sesuai karakteristik masing-masing sekolah. PHR tidak menyeragamkan jenis pelatihan, melainkan menyesuaikannya dengan potensi yang dapat dikembangkan.

Di SLB Yayasan Hati Terpilih, misalnya, pembinaan difokuskan pada keterampilan menjahit dan pelatihan tata rias atau make-up artist (MUA).

Iwan mengatakan kebutuhan setiap sekolah menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk pendampingan. Menurut dia, program pemberdayaan akan lebih bermanfaat apabila keterampilan yang diberikan sesuai dengan kemampuan penerimanya.

“Setiap sekolah memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, program dikembangkan sesuai kemampuan masing-masing agar keterampilan yang diberikan dapat benar-benar dimanfaatkan dan dikembangkan,” kata Iwan.

Melalui pembinaan di tiga SLB tersebut, PHR berupaya membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan yang dapat menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari maupun peluang produktivitas pada masa mendatang.

Penguatan kemampuan guru juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program. Dengan pengetahuan yang dimiliki, guru diharapkan dapat meneruskan proses pembelajaran tanpa sepenuhnya bergantung pada pendampingan perusahaan.

Mengukur Keberhasilan dari Kemandirian

Di SLB Bumi Manggalo, perjalanan menuju kemandirian masih berlangsung. Setiap produk yang selesai dibuat merupakan hasil dari proses belajar yang membutuhkan waktu, pendampingan, dan pengulangan.

Dukungan PHR memberi ruang bagi sekolah untuk mengembangkan keterampilan yang lebih terarah. Namun, keberlanjutan program tetap membutuhkan keterlibatan guru, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Bagi siswa, kesempatan belajar membuat kerajinan membuka pengalaman untuk mencoba sesuatu yang baru. Bagi guru, pembinaan menjadi peluang memperluas metode pembelajaran. Sementara bagi sekolah, hasil karya yang mulai dikenal masyarakat memberikan kesempatan untuk mengembangkan kegiatan produktif.

Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak produk yang dihasilkan atau berapa kali pelatihan diselenggarakan. Kemampuan sekolah meneruskan kegiatan, keterampilan siswa yang terus berkembang, serta terbukanya kesempatan untuk berkarya menjadi bagian penting dari tujuan tersebut.

Melalui program pembinaan di tiga SLB, PHR berupaya menjadikan pemberdayaan sebagai proses yang berkelanjutan. Bukan sekadar menghadirkan kegiatan, melainkan membantu membangun kemampuan agar manfaatnya tetap dirasakan ketika pendampingan perusahaan tidak lagi berlangsung secara intensif.

Di ruang belajar SLB Bumi Manggalo, sepotong kayu mungkin masih membutuhkan berkali-kali sentuhan sebelum menjadi produk yang layak digunakan. Namun, di balik proses itu, ada sesuatu yang sedang dibangun lebih jauh: kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk mengenali potensi, menunjukkan kemampuan, dan menapaki jalan menuju kemandirian.(DI)

 

TERKAIT